
Kunjungan silaturahmi Yayasan As-Salam dan Pondok Pesantren Darussalam berlanjut ke Pondok Pesantren Al-Mubarak DDI Tobarakka. Pertemuan diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menghadirkan suasana khidmat sekaligus menenangkan.
Sejak awal, nuansa kekeluargaan terasa kuat. Dialog mengalir hangat, diselingi senyum dan tawa yang membuat pertemuan terasa cair namun tetap berbobot.
Sambutan Hangat dan Gambaran Al-Mubarak
Syeikhul Ma’had Al-Mubarak menyampaikan sambutan hangat sekaligus memperkenalkan jajaran yang hadir, mulai dari wakil pimpinan, kepala madrasah MI dan MA, hingga pembina OSIM.
Beliau menjelaskan bahwa Al-Mubarak berdiri pada tahun 1991. Sejak itu, jumlah santri terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 1.270 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 700 adalah santri mukim.
Kegiatan belajar berlangsung dari pagi hingga pukul 14.00. Di luar itu, ada program khas pesantren seperti qira’ah kutub dan tahfidz. Pengajar tahfidz fokus khusus pada pengajaran hafalan. Beberapa alumni bahkan diberi amanah sebagai imam rawatib di masjid.
Jumlah pembina dan staf mencapai sekitar 110 orang, sebagian besar merupakan alumni DDI Tobarakka sendiri. Ini menunjukkan kuatnya kaderisasi internal.
Sistem Pengajaran dan Tradisi Keilmuan
Al-Mubarak menerapkan kombinasi kurikulum madrasah dan kurikulum pondok. Kitab-kitab rujukan pendiri, sekitar 30 kitab, tetap menjadi pegangan utama dalam pembelajaran.
Santri mukim mengikuti pengajian rutin setiap hari selepas Maghrib dan Subuh. Ada pula kajian Alfiyah yang diajarkan langsung oleh syeikh dari Kairo setiap selesai Ashar. Tradisi ini menjaga kualitas dan kesinambungan sanad keilmuan.
Sarana, Pendanaan, dan Dukungan Masyarakat
Dalam hal sarana prasarana, bantuan dari Kementerian Agama cukup besar hingga tahun 2010. Setelah itu, pembangunan lebih banyak ditopang oleh wakaf wali santri dan masyarakat.
Untuk penggajian guru dan staf, dana BOS madrasah menjadi salah satu sumber utama. Model ini menunjukkan kolaborasi antara dukungan negara dan partisipasi masyarakat.
Dr. Drs. Andi Muhammad Yusuf, M.A., selaku Mudir Ma’had Al-Mubarak, menegaskan satu prinsip penting:
“Perbedaan dalam pengamalan agama adalah seni. Bersatu dalam akidah, toleransi dalam hilafiyah. Tidak saling menyalahkan.”
Kalimat ini menjadi salah satu benang merah dalam pertemuan tersebut.
Sambutan Ketua Yayasan As-Salam
Ketua Yayasan As-Salam menyampaikan bahwa tujuan kunjungan ini adalah untuk mempererat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah antara kedua pesantren.
Beliau juga menjelaskan secara singkat transformasi Darussalam yang dahulu pernah dipandang radikal, namun kini bergerak menjadi lebih terbuka dan inklusif.
“Darussalam berprinsip menjaga persatuan di atas perbedaan,” tegasnya.
Ucapan terima kasih pun disampaikan kepada keluarga besar Al-Mubarak atas penerimaan yang hangat dan terbuka.
Sesi Sharing: Islam Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalam sesi berbagi pengalaman, Ustadz Hafiz, Wakil Syeikhul Ma’had, menceritakan kisah dialognya dengan seorang non-Muslim tentang hukum potong tangan dalam Islam. Kisah itu menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
Ia juga menekankan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah hal yang wajar. Justru di situlah kekayaan khazanah Islam. Rukunnya ulama yang berbeda pandangan menjadi pelajaran penting dalam membangun sikap moderat.
Asal-Usul dan Karakter Al-Mubarak
Mudir Darussalam, Nur Rohim, S.Pd., menanyakan asal mula berdirinya Al-Mubarak serta perbedaan spesifik antara DDI dan As’adiyah.
Syeikhul Ma’had menjelaskan bahwa Al-Mubarak bermula dari sebuah masjid. Dari sana lahir pesantren dengan berbagai dinamika, termasuk perubahan nama.
Guru pertama adalah Ustadz Arif dari Makassar, yang mampu menyesuaikan diri dengan budaya dan bahasa setempat. Perkembangan pesantren juga dipengaruhi oleh pendekatan yang baik kepada pemerintah dan tokoh agama, termasuk figur-figur yang dikenal luas seperti Ustadz Maulana.
Menariknya, beliau menekankan pentingnya penampilan yang rapi dan baik untuk meyakinkan masyarakat. Menurutnya, kepercayaan publik juga dibangun dari cara pesantren menampilkan diri.
Dalam sistem kepemimpinan, Al-Mubarak menerapkan model kolektif. Masjid secara kepemilikan adalah milik masyarakat, namun pengelolaannya dilakukan oleh pesantren dengan dukungan dan penerimaan masyarakat.
Terkait perbedaan antara DDI dan As’adiyah, beliau menyampaikan bahwa dalam praktik ibadah nyaris tidak ada perbedaan. Perbedaannya lebih pada struktur kelembagaan. DDI adalah organisasi Islam, sedangkan As’adiyah berbentuk yayasan.
Ukhuwah yang Menguat
Pertemuan ditutup dalam suasana akrab dan penuh canda tawa. Diskusi yang awalnya formal berubah menjadi dialog yang hangat dan setara.
Silaturahmi ini bukan hanya kunjungan biasa. Ia menjadi ruang belajar bersama tentang moderasi, tata kelola, kaderisasi, dan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Dari Tobarakka, satu pesan kuat kembali ditegaskan: pesantren akan kokoh jika berdiri di atas ilmu, kepercayaan masyarakat, dan ukhuwah yang tulus.
Andi Samsudding | Tobarakka 12 Februari 2026