Ponpes Darussalam Tellesang Gelar Tarhib Ramadhan 1447 H/2026 M

“Filosofi Ramadhan: Ilmu sebagai Pintu, Takwa sebagai Tujuan”
Tellesang, 14 Februari 2026

Pondok Pesantren Darussalam Tellesang menggelar kegiatan Tarhib Ramadhan sebagai bentuk penyambutan bulan suci dengan penuh kesiapan ilmu dan hati. Kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh antusiasme dari para santri serta jamaah yang hadir.

Acara dipandu oleh Ustadz Maljum, S.Pd selaku MC. Tilawah Al-Qur’an dibacakan dengan merdu oleh Ananda Zahra Khan, santri kelas XII A MA Darussalam Tellesang. Materi inti disampaikan oleh Ustadz Muhammad Yusuf S., S.Pd., M.Hum dengan tema mendalam: “Filosofi Ramadhan: Ilmu sebagai Pintu, Takwa sebagai Tujuan.”

Tarhib Ramadhan: Membuka Hati Menyambut Bulan Suci

Pemateri membuka kajian dengan salam hormat kepada para guru, senior, santri, dan jamaah. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kehidupan dan kesempatan bertemu Ramadhan, serta menyempurnakan rasa syukur itu dengan meningkatkan ibadah kepada Allah ﷻ.

Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan utama dalam menjalani Ramadhan dengan penuh kesungguhan.

Secara makna, tarhib diartikan sebagai proses membuka hati dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci, bukan sekadar seremonial, tetapi persiapan ruhani dan ilmiah.

Ilmu Sebelum Amal: Pintu Menuju Ramadhan Berkualitas

Salah satu poin penting yang ditekankan adalah kaidah:

العلم قبل العمل
“Ilmu sebelum amal.”

Amal akan bernilai apabila dilandasi dengan ilmu. Ibadah tanpa pemahaman dapat kehilangan ruh dan arah.

Secara bahasa, ‘ilm berarti tanda atau bekas (alamat). Ilmu yang benar akan meninggalkan bekas dalam hati, melahirkan kekhusyukan dan rasa takut kepada Allah.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa ukuran ilmu bukanlah gelar akademik, melainkan lahirnya khasyah (rasa takut dan tunduk) kepada Allah. Tidak semua yang bergelar tinggi otomatis memiliki ketakwaan.

Makna Ramadhan

Secara bahasa, Ramadhan berasal dari kata ramdha yang berarti panas yang membakar. Maknanya, Ramadhan membakar dosa-dosa hamba yang bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Sebagian ulama, di antaranya disebutkan dalam tafsir karya Fakhruddin ar-Razi, membahas pendapat tentang penamaan Ramadhan dan makna filosofisnya.

Terdapat pula hadis peringatan:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.”
(HR. Tirmidzi – hasan shahih)

Hadis ini menjadi motivasi agar Ramadhan tidak berlalu tanpa perubahan diri.

Niat Puasa Menurut Mazhab Syafi’i

Dalam Mazhab Syafi’i, niat puasa wajib dilakukan setiap malam sebelum fajar untuk puasa wajib Ramadhan. Hal ini dijelaskan dalam berbagai kitab fiqih Syafi’iyah seperti Fathul Mu’in.

Sebagian ulama membolehkan niat di awal Ramadhan untuk satu bulan penuh, namun pendapat yang mu’tamad dalam mazhab Syafi’i adalah memperbarui niat setiap malam.

Tiga Tingkatan Puasa
Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, puasa dibagi menjadi tiga tingkatan:

  1. Puasa Awam
    Menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri.
  2. Puasa Khusus
    Menahan anggota tubuh dari maksiat: ghibah, dusta, pandangan haram, dan dosa lainnya.
  3. Puasa Khususul Khusus
    Puasa hati, yakni menjaga hati dari selain Allah, memfokuskan diri pada dzikir dan kedekatan kepada-Nya.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum naik kelas dalam kualitas puasa.

Takwa: Tujuan Akhir Ramadhan

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ … لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa.

Dalam QS. Ali Imran (133–134), disebutkan ciri-ciri orang bertakwa:

  1. Gemar berinfak dalam lapang dan sempit
  2. Menahan amarah
  3. Memaafkan kesalahan orang lain

Dalam QS. Adz-Dzariyat (15–19), orang bertakwa digambarkan:

  • Berada dalam surga
  • Sedikit tidurnya di malam hari untuk beribadah
  • Memiliki kepedulian sosial dan memperhatikan hak orang miskin

Takwa bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan sosial yang baik dengan sesama manusia.

Takwa juga tampak ketika seseorang segera mengingat Allah saat lalai dan segera kembali kepada-Nya.

Sesi Tanya Jawab

  1. Bagaimana menilai tingkat ketakwaan seseorang?
    Jawaban: Hanya Allah yang mengetahui kadar takwa seseorang karena takwa berkaitan dengan hati. Adapun menilai diri sendiri, ukurannya adalah sejauh mana kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  2. Bagaimana mensyukuri nikmat Allah?
    Dengan:
  • Lisan: memperbanyak mengucap Alhamdulillah
  • Hati: menyadari nikmat berasal dari Allah
  • Amal: menggunakan nikmat untuk ketaatan
  1. Shalat malam lebih dari 11 rakaat?
    Diketahui bahwa Nabi ﷺ sering melaksanakan 11 rakaat. Namun persoalan jumlah rakaat tarawih termasuk ranah khilafiyah. Ada ulama yang membatasi dan ada yang membolehkan lebih dari itu. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan konsistensi.

Penutup
Tarhib Ramadhan di Ponpes Darussalam Tellesang menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi perjalanan spiritual yang harus dimasuki melalui pintu ilmu dan diakhiri dengan capaian takwa.

Ilmu membimbing amal. Amal melahirkan takwa. Dan takwa mengantarkan pada ridha Allah.

Semoga Ramadhan yang akan datang menjadi momentum pembakaran dosa, peningkatan kualitas diri, dan penguatan hubungan dengan Allah serta sesama manusia.


Penulis : Andi Samsudding | Sekretaris YPPA As-Salam Tellesang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top