Kunjungan Silaturahmi Penuh Makna: As-Salam Darussalam Buriko Belajar Tata Kelola ke PP As’adiyah Sengkang
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal pertemuan antara Yayasan Pendidikan dan Panti Asuhan As-Salam bersama Pondok Pesantren Darussalam Buriko dengan Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang. Kunjungan silaturahmi ini bukan sekadar agenda formal, tetapi menjadi ruang berbagi pengalaman, gagasan, dan strategi dalam mengembangkan pesantren yang maju dan berkelanjutan.
Pertemuan dibuka dengan salam takzim dari Sekretaris Jenderal PP As’adiyah, Drs. Andi Hasbi, M.Ag., kepada rombongan Darussalam Buriko. Beliau menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut serta menyambut hangat seluruh jajaran Yayasan As-Salam.
As’adiyah: Pesantren dengan Sistem dan Kendali Pusat
Dalam pemaparannya, Sekjen menjelaskan bahwa As’adiyah memiliki sistem manajemen yang terstruktur. Terdapat pengurus pusat sebagai pimpinan tertinggi yang menjadi kendali seluruh pesantren As’adiyah. Semua lembaga pendidikan dan unit usaha berada di bawah koordinasi kantor pusat.
“As’adiyah berbeda karena memiliki sistem institusi dan departemen yang jelas,” ungkap beliau.
Beliau juga memperkenalkan sejarah pendirian As’adiyah, mulai dari tokoh pertama hingga para pimpinan berikutnya. Dari tangan Kiai As’ad, lahir banyak ulama besar di Sulawesi Selatan yang memberi warna pada perkembangan dakwah dan pendidikan Islam di kawasan tersebut.
Awal berdirinya lembaga pendidikan ditandai dengan MAI (Madrasah Al-Arabiyah Al-Islamiyah). Dari sana berkembang berbagai lembaga lain seperti RA/madrasah, MDT, PDF, Ma’had Ali, hingga lembaga tahfidz. Kini, As’adiyah telah tersebar di berbagai pelosok Nusantara dengan beberapa kampus utama, antara lain Kampus 1 Masjid Jami, Kampus 2 Lapongkoda, Kampus 3 Macanang, dan Kampus 4 Ma’had Ali.
Pondok Tahfidz dan Kekuatan Tradisi Keilmuan
Bendahara Umum PP As’adiyah menambahkan bahwa pondok tahfidz As’adiyah berkembang pesat karena ditopang tradisi guru turun-temurun yang kuat. Ia juga menyampaikan bahwa program MBG masih diterima oleh pesantren.
Kekuatan tradisi inilah yang menjadi salah satu fondasi utama keberlanjutan As’adiyah hingga saat ini.
Tujuan Kunjungan: Belajar Tata Kelola untuk Berkembang
Ketua Yayasan As-Salam, Yofiandy, S.Pd.I., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas penyambutan yang hangat. Ia memperkenalkan secara singkat profil Yayasan dan Pondok Pesantren Darussalam Buriko.
Tujuan utama kunjungan ini jelas: ingin belajar dan berbagi tentang tata kelola pesantren agar ke depan Darussalam bisa tumbuh lebih baik dan profesional.
“Kami ingin sharing tentang pengelolaan pesantren agar bisa maju dan berkembang,” ujarnya.
Diskusi Terbuka: Pendidikan, Pendanaan, dan Usaha Pesantren
Mudir Darussalam, Nur Rohim, S.Pd., mengajukan beberapa pertanyaan penting. Di antaranya tentang naungan kelembagaan pendidikan As’adiyah serta strategi pendanaan pesantren.
Sekjen menjelaskan bahwa lembaga pendidikan As’adiyah berada di bawah naungan pendidikan madrasah dan PD Pontren. Di setiap kampus terdapat dua lembaga yang berjalan sesuai regulasi Kementerian Agama.
Terkait pembiayaan, beliau menjelaskan secara terbuka bahwa seluruh jenjang pendidikan berbayar. Dana tersebut digunakan untuk menggaji tenaga pendidik serta operasional pesantren.
Untuk menopang kemandirian ekonomi, As’adiyah mengembangkan berbagai unit usaha melalui BUMPES dan lembaga wakaf. Beberapa di antaranya adalah kebun, sawah, minimarket, produksi air mineral, hingga travel haji dan umrah. Model ini menjadi salah satu pilar penting keberlangsungan pesantren.
Mengapa As’adiyah Banyak Diminati?
Pertanyaan menarik juga datang dari Khoiruman, S.Pd., Bidang Pendidikan dan Pengajaran Darussalam, tentang rahasia keunggulan As’adiyah sehingga diminati banyak masyarakat Muslim.
Sekjen menjawab dengan sederhana namun tegas. Kuncinya adalah kepercayaan masyarakat.
“As’adiyah dipercaya karena fokus pada pendidikan dan dakwah, sudah lama dikenang masyarakat, lulusannya dipromosikan dengan baik, dan diakui oleh institusi negara, khususnya Kementerian Agama.”
Selain itu, program pengkaderan ulama melalui pengabdian masyarakat dan pengajian kitab kuning menjadi ciri khas tersendiri. Coraknya moderat dan terbuka terhadap perbedaan, sehingga mudah diterima berbagai kalangan.
Tradisi, Kaderisasi, dan Otonomi Cabang
Abdul Qodir Audah, S.Pd., Bendahara Yayasan As-Salam, menanyakan tentang keturunan Kiai As’ad. Sekjen menjelaskan bahwa hingga kini masih ada cucu-cucu beliau dari beberapa istri.
Cabang-cabang As’adiyah sendiri lahir dari simpatisan dan diatur secara otonom, meski tetap berada dalam garis koordinasi pusat.
Terkait kader yang belajar ke luar negeri, Sekjen menjelaskan bahwa pihak pesantren hanya memberikan rekomendasi, sementara proses selanjutnya bergantung pada masing-masing kader.
Dalam hal kurikulum kitab, terdapat kurikulum khusus pesantren. Namun cabang memiliki kewenangan mengatur kebutuhan finansial secara mandiri.
Kunci Pengembangan: Organisasi dan Humas yang Aktif
Dalam sesi akhir, Sekjen menekankan pentingnya memberdayakan organ-organ yang ada di pesantren. Salah satunya adalah fungsi humas yang aktif dan terarah.
Program rutin seperti muktamar, rapat kerja, rapat bulanan, rapat pekanan, halaqah umum, hingga rapat insidental menjadi bagian dari budaya organisasi As’adiyah. Sistem ini menjaga kesinambungan program dan kekompakan internal.
Hangat, Akrab, dan Penuh Semangat Kolaborasi
Pertemuan berlangsung lancar dan penuh keakraban. Sesekali canda tawa terdengar, mencairkan suasana diskusi yang serius namun tetap santai. Di akhir pertemuan, kedua pihak saling bersalaman hangat sebagai tanda ukhuwah dan komitmen untuk terus bersinergi.
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi langkah nyata membangun jaringan, belajar dari pengalaman, dan memperkuat peran pesantren dalam pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat.
Semoga pertemuan ini menjadi awal kolaborasi yang lebih luas dan membawa keberkahan bagi kedua lembaga.
Andi Samsudding | Sengkang 11 Februari 2026